EVENTGUIDE.ID– Besarnya pasar halal global membuka peluang bagi Indonesia untuk tampil sebagai produsen dan pemasok produk halal dunia.
“Pasar halal dunia terus menunjukkan pertumbuhan positif. Pada tahun 2024, konsumsi umat Muslim di enam sektor ekonomi syariah telah menembus USD2,6 triliun. Angka ini diperkirakan akan meningkat menjadi USD3,56 triliun pada tahun 2029,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita.
Menperin juga mengemukakan, potensi pasar di dalam negeri cukup menjanjikan. Konsumsi rumah tangga Indonesia tercatat mencapai Rp 6.876,70 triliun pada semester I tahun 2026. Hal ini dipacu oleh jumlah penduduk Indonesia yang mencapai lebih dari 87,14 persen populasi, yakni sebanyak 252,8 juta jiwa.
“Berbekal modal utama ini, Indonesia harus bertransformasi dari sekadar pasar menjadi produsen dan pemain utama industri halal dunia,” ungkapnya.
Sementara itu, Berdasarkan State of The Global Islamic Economy Report (SGIER) 2025/26, Indonesia menempati peringkat keempat dalam ekosistem industri halal dunia, setelah Malaysia, UEA, dan Arab Saudi, serta Bahrain di peringkat kelima.
“Kita patut bangga karena Indonesia unggul di salah satu sektor dengan bobot penilaian terbesar 30 persen yaitu makanan halal, yang naik dari peringkat keempat menjadi peringkat ketiga,” tutur Agus.
Menperin juga menyampaikan, kinerja industri halal Indonesia dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren yang menggembirakan. Hingga akhir semester I/2026 katan , terdapat 2,67juta perusahaan industri yang telah memiliki sertifikat halal.
Angka ini didominasi oleh sektor makanan halal sebanyak 2,32 juta industri, diikuti oleh industri minuman halal dengan 342,09 ribu industri, serta kimia, farmasi dan obat tradisional dengan 5.341 industri.
Jumlah produk industri yang telah tersertifikasi halal mencapai 5,49 juta produk dengan total 2,76 juta sertifikat halal. Sementara, daya tarik investasi di ekonomi syariah, termasuk industri halal terus menunjukkan tren positif.
Pada tahun 2025, Indonesia berhasil mencatatkan diri sebagai penerima Foreign Direct Investment (FDI) terbesar ketiga di antara negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI), dengan total nilai investasi mencapai USD24,2 miliar yang tersebar di 33 proyek strategis.
Ekspor produk halal Indonesia juga terus mengalami pertumbuhan yang signifikan. Pada tahun 2024, nilai ekspor produk halal Indonesia ke negara-negara OKI mencapai USD12,51 miliar, tumbuh sebesar 4,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menempatkan Indonesia di urutan ke-9.
Meski di sisi lain, impor produk halal Indonesia dari negara-negara OKI pada periode yang sama sebesar USD31,52 miliar, meningkat 6,22 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
“Inilah momentum yang harus kita kelola agar Indonesia bisa bangkit sebagai pusat industri halal dunia,” tegas Agus.
Lebih meningkatkan halal awareness dan akses pasar produk industri halal, Kemenperin kembali bekerja sama dengan PT Dyandra Promosindo menyelenggarakan Halal Indonesia International Industry Expo (Halal Indo).
Tahun ini Halal Indo menghadirkan lebih dari 350 brand di Hall 3 dan 3A ICE BSD City dan menargetkan kehadiran 30.000 pengunjung.
Keberhasilan Halal Indo di tahun-tahun sebelumnya telah menarik minat dunia, sehingga pada tahun ini Halal Indo dihadiri lebih dari 8 negara, baik sebagai peserta pameran maupun calon pembeli, antara lain Tunisia, Kazakhstan, Pakistan, Malaysia, Vietnam, Amerika, Serikat, Tailan, dan Selandia Baru.
Selain itu, Halal Indo 2026 juga terhubung dengan jaringan expo halal internasional yang semakin luas, yaitu Mega Halal Bangkok di Thailand dan MIHAS di Malaysia. Konektivitas ini semakin memperkuat peran Indonesia dalam jejaring industri halal global.
Pada Halal Indo 2026, Kemenperin kembali berpartisipasi dengan memfasilitasi 174 industri halal dari berbagai subsektor industri. Selain itu, juga Kemenperin menghadirkan pelayanan publik, workshop industri halal, dan business matching untuk mempertemukan pelaku industri dengan calon mitra potensial.
Partisipasi ini menjadi bukti konkret kesiapan Indonesia untuk tampil sebagai pusat industri halal dunia melalui penguatan rantai nilai dan daya saing produk nasional di pasar global. Selain menghadirkan pameran produk unggulan, rangkaian Industrial Festival dan Halal Indo 2026 juga menyediakan layanan konsultasi publik bagi pelaku industri.
Layanan tersebut mencakup konsultasi mengenai pemutakhiran Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) serta pelaporan data industri triwulan III tahun 2026 melalui Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas).
Kehadiran layanan ini diharapkan dapat membantu pelaku industri memperoleh informasi dan pendampingan secara langsung, sekaligus meningkatkan kepatuhan dan ketepatan pelaporan data industri nasional.




















