EVENTGUIDE.ID – Konser YE Live in Jakarta 2026 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Sabtu (24/10) berlangsung sukses dan dibanjiri penonton dari mancanegara.
Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif (Ekraf), Teuku Riefky Harsya yang berkesempatan hadir di konser Ye menyampaikan konser berskala internasional perlu memberikan dampak yang melampaui pengalaman penonton. Keterlibatan pejuang kreatif, hingga pelaku usaha lokal menjadi bagian penting dalam menciptakan efek berganda bagi perekonomian.
“Kami memandang konser internasional tidak sekadar sebagai ajang pertunjukan, tetapi juga sebagai sarana untuk meningkatkan kapasitas dan memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Keterlibatan para pegiat kreatif dalam proses produksi memberikan kesempatan untuk belajar sekaligus memperoleh pengalaman bekerja dengan standar internasional,” ujar Teuku Riefky Harsya.
Menurutnya, pengalaman tersebut membantu mereka memahami standar kerja profesional, mengembangkan kompetensi teknis, serta membangun jejaring dengan pelaku industri hiburan global. Dengan demikian, penyelenggaraan konser internasional turut menjadi ruang peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor ekonomi kreatif.
“Antusiasme yang terbangun tidak boleh berhenti di dalam stadion, tetapi juga harus menginspirasi masyarakat di luar stadion. Karena itu, kekuatan penceritaan dan kolaborasi menjadi kunci untuk menyatukan semangat dan mendorong lebih banyak pihak mengambil peluang yang ada. Dengan cara pandang dan strategi yang tepat, momentum ini dapat menjadi langkah bagi pelaku ekraf Indonesia untuk menembus panggung global,” tambahnya.
Dampak ekonomi dari konser internasional juga dapat menjangkau berbagai sektor pendukung, termasuk penyedia jasa produksi, transportasi, akomodasi, kuliner, dan usaha lokal lainnya.
Hal tersebut telah terlihat sejak kegiatan prakonser YE Live in Jakarta 2026, termasuk pertunjukan Tunnel Vision: An Ode to Ye yang digelar Raw Vision Collective (RVC) di SCBD Tunnel, Jakarta, pada 18 Oktober 2026. Pertunjukan tersebut mempertemukan musisi internasional Tony Williams dengan talenta Indonesia, yakni Angel Pieters, Dre Synth, dan Glorify The Lord Ensemble (TLE).
Kolaborasi musik modern, paduan suara, dan instrumen tradisional Indonesia menjadi contoh ruang pertemuan antara pendekatan musikal kontemporer dan kekayaan musik nasional.




















