EVENTGUIDE.ID – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berkolaborasi dengan Garuda Indonesia dan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Sydney memperluas pasar wisata edukasi (EduTourism) Australia.
Langkah ini diambil untuk memperkenalkan desa wisata Indonesia sebagai ruang belajar yang memadukan sejarah, seni, budaya, lingkungan, dan kehidupan masyarakat lokal.
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar Ni Made Ayu Marthini mengatakan wisata edukasi menjadi salah satu peluang untuk memperkenalkan Indonesia sebagai destinasi liburan juga living classroom yang menawarkan pengalaman belajar melalui budaya, alam, dan kehidupan masyarakat.
“Kami percaya pengalaman belajar secara langsung serta jejaring yang terbangun melalui program ini akan membuka peluang lebih luas bagi pengembangan segmen perjalanan edukasi ke berbagai destinasi di Indonesia,” kata Ni Made Ayu di Jakarta, Jumat (14/8/2026).
Kemenpar menggelar rangkaian promosi pada 3–4 Agustus 2026, diawali dengan kegiatan “Indonesia Goes to School: Experience Wonderful Indonesia in the Classroom” di Claremont College, Sydney. Kegiatan tersebut memperkenalkan pengalaman wisata edukasi Indonesia secara langsung kepada kepala sekolah, guru, dan siswa melalui berbagai lokakarya interaktif.
Para peserta mengikuti kegiatan membatik bersama Desa Wisata Wukirsari, belajar tari tradisional bersama Desa Wisata Taro, serta bermain angklung dan meronce kerajinan dari biji hanjeli. Peserta juga mengikuti storytelling bersama Balai Bahasa dan Budaya Indonesia NSW melalui pembacaan buku edukatif mengenai hanjeli yang berasal dari Desa Wisata Hanjeli.
Rangkaian kegiatan tersebut memberikan pengalaman lintas budaya sekaligus memperkenalkan kepada siswa bahwa kekayaan budaya dan kehidupan masyarakat Indonesia dapat menjadi bagian dari proses pembelajaran secara langsung.
Menurut Ni Made Ayu, perjalanan edukasi (educational travel) merupakan salah satu segmen pariwisata berkualitas yang memiliki nilai tambah tinggi. Karakter perjalanan edukasi berpotensi menciptakan masa tinggal yang lebih panjang, membangun interaksi yang lebih mendalam antara wisatawan dengan masyarakat, budaya lokal, dan ekosistem pendidikan di destinasi.
Potensi pasar tersebut juga ditopang besarnya perjalanan generasi muda secara global. WYSE Travel Confederation dan UN Tourism memprediksi dari sekitar 350 juta pemuda yang melakukan perjalanan pada 2025, sebanyak 23 persen di antaranya merupakan pelajar.
Australia menjadi salah satu pasar strategis bagi pariwisata Indonesia. Sepanjang 2025, kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia mencapai 1.754.791 kunjungan dan menempatkan Australia sebagai pasar wisatawan mancanegara terbesar kedua bagi Indonesia.
Tren tersebut berlanjut pada 2026. Hingga Juni 2026, kunjungan wisatawan Australia ke Indonesia tercatat sebanyak 864.750 kunjungan atau meningkat 6,29 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Memperluas peluang pasar tersebut, Kemenpar melanjutkan rangkaian promosi dengan menggelar EduTourism Networking Event pada 4 Agustus 2026. Kegiatan ini mempertemukan pelaku industri pariwisata Indonesia dengan mitra industri perjalanan dan pemangku kepentingan pendidikan di New South Wales, Australia.
Kegiatan yang berlangsung di Indonesia Residence tersebut mencakup pemaparan produk unggulan wisata edukasi, table-top meeting, sesi networking, serta pertunjukan budaya.
Produk yang diperkenalkan antara lain Desa Wisata Wukirsari di Yogyakarta yang menawarkan pembelajaran mengenai seni tradisi, kearifan lokal, dan kerajinan batik berstandar dunia. Sementara Desa Wisata Taro di Bali menghadirkan pengalaman belajar berbasis lingkungan, keberlanjutan, dan pelestarian budaya.
Konsul Jenderal RI Sydney Pendekar Muda Leonards Sondakh mengatakan Indonesia memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai tujuan perjalanan yang menyediakan beragam ruang pembelajaran.
Melalui program seperti Indonesia Goes to School dan wisata edukasi, generasi muda Australia dapat mengenal secara langsung budaya, tradisi, kehidupan masyarakat, dan keberagaman Indonesia.




















