EVENTGUIDE.ID – SBY Art Community (SAC) menyelenggarakan Artist Talk pertama dalam rangka pameran lukisan kedua bertema “Art for Peace and a Better Future: Collaboration”.
Acara ini mengulas teknik melukis en plein air karya seniman Jerman, Christopher Lehmpfuhl. Ia hadir sebagai kolaborator dengan gaya unik: melukis menggunakan tangan.
Christopher Lehmpfuhl secara resmi mewakili Kornfeld Galerie, Berlin menyampaikan melukis di luar ruang atau en plein air (dari bahasa Perancis yang berarti di udara terbuka) dicap sebagai salah satu gaya “old fashion”.
Menurutnya gaya ini dikenalkan pertama kali oleh pelukis Perancis, Claude Monet dan Pelukis Jerman Max Liebermann. Melukis di luar ruang mempunyai banyak tantangan sekaligus keuntungan.
“Kita tidak hanya menghadapi cuaca, kondisi lainnya seperti hujan, salju, cahaya bahkan warna yang mampu memberikan pengalaman emosi yang dalam. Ini memberikan pengalaman yang berbeda dari melukis di studio,” jelas Christopher Lehmpfuhl di TIM, Jakarta, Rabu (19/8).
Ia menemukan cara melukis dengan jari justru saat ia memulai melukis en plain air. Dikenal melalui lukisan-lukisan en plein air dengan lapisan cat tebal (impasto), pendekatan ini tampak jelas dalam praktik artistik Christopher Lehmpfuhl.
Ia sering kali mengaplikasikan cat secara langsung menggunakan jari-jarinya. Sentuhan tangan menggantikan fungsi kuas sehingga setiap tekanan, gerak, dan tekstur menjadi bagian dari proses penciptaan.
Teknik tersebut bukan sekadar pilihan visual, melainkan cara membangun hubungan yang lebih dekat antara tubuh, material, dan lanskap yang sedang dihadapi.
Lukisan tidak hanya merekam apa yang dilihat, tetapi juga bagaimana sebuah tempat dialami secara fisik dan dituangkan dalam karya.
“Melukis dengan tangan bagi saya.seperti memahat yang melibatkan jari jari untuk mendapat emosi penuh saat menggores. Ini memberikan pengalaman yang luar biasa bagi saya dibanding dengan melukis dengan kuas,” jelas Christopher Lehmpfuhl yang telah melukis lebih dari 20 tahun dengan teknik ini.
Di tempat yang sama, Naufal Abshar seniman muda yang juga berpartisipasi dalam pameran kedua yang diselenggarakan oleh SAC di tahun 2026 mengungkapkan melihat en plein air sebagai “a new school” karena selama ini ia melukis di studio yang lebih ‘tertata’ dibanding dengan melukis di alam terbuka.
“En plein air memiliki banyak layer dan tantangan yang dapat memengaruhi karya, mulai dari cuaca sampai kondisi landscape yang dapat mempengaruhi karya. Hasilnya tentu saja memberikan rasa yang beda. Ini buat saya sebagai sebuah ‘a new school’ terutama bagi seniman seperti saya yang banyak bekerja di studio,” beber Naufal.
Gelaran ini juga menghadirkan pelaku seni sekaligus pengajar di ISI Yogyakarta, I Gede Arya Sucitra yang menggarisbawahi bahwa konsep en plein air dalam rangka masa persiapan dan produksi Art For Peace And A Better Future: Collaboration.
“Ini yang dirasakan sebagai sebuah konektivitas dan pengalaman budaya bersama ketika 21 seniman yang tergabung dalam SBY Art Community (SAC) membuat karya en plein air bersama Christopher Lehmpfuhl,” ucapnya.
Pameran Art For Peace And A Better Future:Collaboration terbuka untuk umum pada 18-30 Agustus di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki Jakarta. Pameran ini menampilkan 150 lukisan dari 27 seniman lintas usia dan budaya. Termasuk di dalamnya 29 karya Christopher Lehmpfuhl.
Pameran ini tidak hanya bertujuan untuk menyuarakan perdamaian dan cita-cita akan dunia yang lebih baik melalui seni terutama seni lukis, akan tetapi juga untuk merayakan HUT RI ke-81 sekaligus HUT DKI Jakarta ke 499 yang merupakan satu kota global dengan Berlin sebagai sister city.
Pameran Art For Peace And A Better Future:Collaboration, didukung oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, Kementerian Ekonomi Kreatif, serta sejumlah mitra seni dan budaya.
Dukungan ini mencerminkan komitmen bersama untuk menjadikan Jakarta sebagai pusat seni rupa internasional.



















