EVENTGUIDE.ID— Ikatan Alumni Universitas Negeri Jakarta (IKA UNJ) melalui Forum Diskusi Pedagogik (FDP) menghadirkan ruang dialog dan pertukaran gagasan mengenai masa depan pendidikan di tengah percepatan transformasi digital.
FDP #1 yang digelar secara hybrid pada Rabu (26/8) itu mengangkat tema _Bagaimana Kurikulum Formal Merespons Bahaya Dunia Digital Secara Preventif: Pendidik sebagai Kompas Moral di Era Digital._
Kegiatan berlangsung diikuti secara daring oleh para guru, pendidik, akademisi, praktisi pendidikan, serta pemerhati pendidikan dari berbagai daerah di Indonesia.
Kehadiran peserta secara daring dari berbagai wilayah menunjukkan tingginya perhatian kalangan pendidik terhadap tantangan digital, khususnya terkait penggunaan artificial intelligence (AI), keamanan digital, karakter peserta didik, serta kesiapan guru menghadapi perubahan teknologi.
Forum ini sekaligus menjadi momentum diaktifkannya kembali FDP IKA UNJ setelah sempat mengalami jeda selama kurang lebih tiga tahun.
Bahaya Digital Sudah Jadi Ancaman Nyata
Ketua Bidang Pedagogik PP IKA UNJ sekaligus moderator dan penggerak FDP, Aan Harinurdin, M.PFis dalam pengantarnya mengatakan bahwa pendidikan saat ini menghadapi tantangan yang paradoks.
Di satu sisi, dunia pendidikan dituntut melakukan akselerasi teknologi dan transformasi digital secara masif. Namun di sisi lain, perkembangan teknologi menghadirkan berbagai risiko terhadap moral, karakter, kesehatan mental, keamanan, privasi, dan integritas akademik peserta didik.
“Bahaya digital bukan lagi sekadar potensi risiko, tetapi sudah menjadi tantangan nyata yang harus diantisipasi oleh dunia pendidikan,” ujar Aan.
Ia memetakan sejumlah ancaman utama, antara lain cyberbullying dan kekerasan verbal, phishing, judi online, kecanduan game dan gawai, serta krisis integritas akademik akibat penggunaan AI secara tidak etis.
Menurut Aan, peserta didik yang merupakan generasi digital native lahir dan tumbuh dalam ekosistem digital yang terbuka. Karena itu, mereka tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggunakan teknologi, tetapi harus memiliki kemampuan memahami konsekuensi penggunaannya.
Pendidikan, kata dia, perlu bergerak dari sekadar digital skill menuju digital character.
Aan juga menawarkan penguatan empat pilar literasi digital, yakni digital skill, digital safety, digital ethics, dan digital culture.
Selain itu, diperlukan penguatan karakter, SOP penggunaan teknologi di sekolah, optimalisasi peran pendidik sebagai pembentuk moral, serta sinergi tiga pusat pendidikan—sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Ia juga menekankan pentingnya parental digital class agar orang tua memiliki kemampuan mendampingi anak dalam menggunakan teknologi.
Sementara itu, Rektor UNJ Prof Dr Komarudin, dalam kegiatan tersebut diwakili oleh Dr Hadi Nasbey, Dekan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNJ.
Dalam paparannya, Hadi menekankan bahwa transformasi digital telah mengubah cara peserta didik belajar, berkomunikasi, membangun identitas, dan berinteraksi sosial.
Menurutnya, teknologi memberikan ruang yang sangat besar bagi pembelajaran, tetapi sekaligus menghadirkan risiko terhadap karakter, kesehatan, keamanan, privasi, dan moral peserta didik.
Karena itu, tantangan pendidikan bukan lagi sekadar bagaimana memberikan akses teknologi, melainkan bagaimana membangun kesadaran dan karakter dalam menggunakan teknologi.
Hadi menegaskan pentingnya pergeseran dari literasi digital menuju karakter digital.
Peserta didik harus mampu mengevaluasi informasi, menggunakan teknologi secara aman, memahami konsekuensi perilaku digital, menghormati hak dan martabat orang lain, serta mengambil keputusan secara etis.
Konsep digital citizenship juga menjadi penting karena peserta didik harus diposisikan sebagai warga yang memiliki hak, tanggung jawab, norma, dan kewajiban di ruang digital.
Namun, Hadi mengingatkan bahwa mengetahui etika digital tidak otomatis berarti memiliki karakter digital.
Karakter digital membutuhkan empati, tanggung jawab, penghormatan, keberanian moral, pengendalian diri, dan kebijaksanaan.
“Karakter tidak cukup hanya diajarkan. Karakter harus dilatihkan melalui pengalaman dan interaksi,” menjadi salah satu pesan penting dalam paparannya.
Hadi juga mengidentifikasi disinformasi dan krisis pengetahuan sebagai tantangan besar dalam pendidikan.
Di era digital, guru dan dosen tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi. Peserta didik memiliki akses terhadap informasi yang sangat luas melalui internet dan berbagai platform digital.
Karena itu, peserta didik harus memiliki kemampuan searching, evaluating, verifying, serta epistemic judgment untuk menentukan validitas suatu informasi.
Menurut Hadi, karakter komunikasi di ruang digital berbeda dengan komunikasi tatap muka. Ketika seseorang berkomunikasi melalui media digital, ekspresi wajah dan emosi tidak selalu terlihat sehingga mudah terjadi salah tafsir.
Karena itu, empati dan tanggung jawab dalam berkomunikasi harus menjadi bagian dari pendidikan karakter digital.
Hadi juga menyoroti tantangan AI terhadap integritas akademik.
AI memberikan peluang besar untuk menghadirkan personal adaptive dan interactive learning, tetapi juga memiliki risiko berupa bias, misinformasi, ketergantungan, dan hilangnya integritas akademik.
Menurutnya, persoalan integritas bukan semata-mata terletak pada penggunaan AI, tetapi pada kejujuran pengguna dalam mengakui penggunaan teknologi tersebut.
Penggunaan AI untuk membantu suatu karya dapat diterima sepanjang dilakukan secara transparan dan bertanggung jawab.
“AI adalah alat bantu. Yang harus tetap dikendalikan adalah manusia yang menggunakan alat tersebut,” menjadi prinsip penting yang ditekankan dalam forum.



















