EVENTGUIDE.ID – Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty bertemu dengan Wamenekraf Irene Umar membahas kerja sama mengoptimalkan potensi seni pertunjukan dan film nasional.
“Kita tak sekadar meningkatkan budaya publik untuk nonton teater di gedung seni pertunjukan maupun nonton film di ruang putar, tetapi juga memberikan soft landing bagi investor untuk masuk ke subsektor seni pertunjukan dan subsektor film,” ungkap Wamenekraf Irene Umar.
Irene menambahkan seni pertunjukan dan film sebenarnya berada dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Subsektor seni pertunjukan bukan hanya ruang ekspresi budaya, tetapi juga dapat menjadi sumber penciptaan IP, pengembangan talenta, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi para pejuang ekraf.
“Kita perlu mendorong karya-karya pertunjukan terus berkembang sehingga memiliki model bisnis yang berkelanjutan dan dapat bertransformasi ke medium lain seperti film,” tambah Wamenekraf.
Sementara itu, Direktur Utama Keana Film, Marcella Zalianty menyampaikan bahwa fokus rumah produksi ini pada pengembangan dua spektrum ekonomi kreatif, yakni subsektor seni pertunjukan dan subsektor film.
Marcella menegaskan pentingnya regenerasi dalam industri kreatif melalui pendidikan maupun pelatihan sehingga kolaborasi dengan Kementerian Ekraf dapat terus dikembangkan menjadi karya kreatif.
“Dulu, Keana Film pernah mengangkat sebuah omnibus dalam konteks Rectoverso dari dunia sastra atau buku karya Dewi Lestari ke sebuah film. Kini, kami terinspirasi untuk bikin konsep omnibus di atas panggung yang mengemas historikal tentang pahlawan-pahlawan lintas perjuangan dan lintas waktu,”.kata Marcella.
“Keana Film bisa menjadikan suatu IP lokal go global karena konten yang universal dan pantas membawa identitas Indonesia mendunia,” lanjutnya.
Keana Film yang sebelumnya sukses menggarap teaterikal Laksamana Malahayati, Monoplay Melati Pertiwi, Meradjoet Sendja, serta film Kalau Kau Indonesia, Tepuk Dada! (2012) dan Rectoverso: Cinta yang Tak Terucap (2013) memaparkan rencana strategis 2026–2027 berbasis kebudayaan.
Rangkaian program tersebut meliputi Monolog Melati Pertiwi, Kongres Perempuan di Yogyakarta, serta festival CULTURA di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berfokus pada pertukaran budaya anak dan pemberdayaan UMKM lokal.
Keana juga menyampaikan gagasan terkait rencana pengembangan IP Laksamana Malahayati dari seni pertunjukan berkembang menjadi karya komik dan film dengan peluang kolaborasi internasional.




















