EVENTGUIDE.ID – Suara khas, empuk dan penuh semangat dalam menggelorakan cinta Tanah Air terpatri kuat dalam sosok penyiar legendaris Radio RRI, Sambas Mangundikarsa.
Mengingat kembali kiprah dan sosok Sambas Mangundikarta sekaligus mengapresiasi kontribusinya dalam dunia penyiaran Indonesia dihelat “100 Tahun Inspirasi Generasi Penyiar: Tribute to Sambas Mangundikarta” di Gedung RRI Jakarta, Senin, 19 Oktober 2026.
Rangkaian kegiatan berlangsung di dua lokasi, yakni Galeri Lobby dan Auditorium Yusuf Ronodipuro, Gedung RRI Jakarta. Hadir dalam kegiatan tersebut Kabul Budiono, Yassir Den Has, dan Brigitta Isworo Laksmi. Dipandu Isabella Fawzi, host Tika Bisono, serta pengisi acara Fadhil Indra, Inge Sambas dan Hetty Koes Endang.
Inisiator gelaran ini sekaligus psikologi dan penyanyi Tika Bisono menyampaikan pada saat sekarang ini, terutama di zaman digital yang juga memudahkan berita hoax tersebar, tak hanya informasi yang benar dibutuhkan melainkan juga penyampai informasi itu sendiri selayaknya sosok yang dapat dipercaya semua kalangan.
“Dengan mengenang penyiar legendaris Sambas diharapkan dapat memperkuat apresiasi terhadap sejarah penyiaran radio Indonesia serta menjadi inspirasi bagi generasi muda bahwa sosok penyampai berita yang dapat dipercaya itu tentunya dapat dibentuk sampai hari ini,” ujar Tika.
“Beliau selalu menyapa pendengar dengan ucapan “saudara-saudara sebangsa dan setanah air”,wah, rasanya di zaman sekarang sudah nyaris tidak terdengar lagi ucapan seperti itu, bahkan mungkin di era RRI zaman sekarang,” sambungnya.
Sementara Adhyaksa Dault, M.Si mantan Menpora RI (2004–2009) mengungkapkan ia mengenal Sambas sejak 1981. Sambas dikenal sebagai sosok yang memiliki kharisma, selain suaranya yang khas ia juga seorang budayawan yang pernah menghasilkan lagu, salah satunya “Manuk Dadali”.
“Dari pencapaiannya saya merasa sosoknya layak untuk mendapatkan penghargaan Bintang Mahaputera sebagai sosok seniman yang semula juga pejuang kemerdekaan. Saya akan menulis surat kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto untuk mengusulkan hal ini,” kata Adhyaksa Dault.
Inge Inge Sambas, putri Sambas di kesempatan yang sama menyatakan dalam siarannya terutama acara olahraga baik sepakbola dan pertandingan bulu tangkis sangat impresif.
“Dulu di era 1970-an hinga 1980-an belum berkembang teknologi audio visual, narasi yang disampaikan Bapak begitu hidup di benak pendengar, seolah pendengar radio RRI melihat langsung sepakbola menonton acara tersebut,” ungkapnya.
Sosok Sambas sendiri lahir di Bandung, 21 September 1926 dan memulai karier sebagai penyiar radio RRI sejak 1952. Tidak hanya menjadi penyiar radio, ia juga merambah menjadi pewarta sepak bola hingga bulu tangkis.
Pembawaannya yang santai dan detail menjadi ciri khas tersendiri. Sambas sering diterjunkan untuk meliput berbagai acara olahraga di Lapangan Ikada, hingga yang paling berkesan adalah saat liputan Thomas Cup pertama kali di Indonesia pada tahun 1961.
Pada 1962, Sambas ditarik ke TVRI. Saat itu, TVRI sebagai televisi pertama di Indonesia menayangkan penyelenggaraan Asian Games keempat di Jakarta. Beberapa perhelatan internasional juga ia liput, seperti All England (1976, 1977, dan 1981), Thomas Cup Kuala Lumpur (1970), Pre World Cup Singapura (1977), dan Uber Cup Tokyo (1981).
Sejak 1970-an, Sambas mulai aktif di belakang layar hingga pada 1983 kembali ditarik menjadi wartawan lapangan dan membawakan acara Dari Desa ke Desa. Saat itu ia masih sangat menjiwai sebagai pewarta, terlihat begitu komunikatif dan informatif saat meliput soal peternak di Brebes, Jawa Tengah, tentang keberhasilan program Kawin Suntik dan Kawin Alam oleh Dinas Peternakan Provinsi Jawa Tengah.
Sebelum mengakhiri kariernya, Sambas sempat membawakan program Piala Eropa pada 1996.
Berkat dedikasinya, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memberikan Lifetime Achievement Award 2022 kepada Sambas Mangundikarta.
Almarhum Sambas Mangundikarta wafat pada tahun 1999 dalam usia 73 tahun akibat penyakit paru-paru.



















