EVENTGUIDE.ID – Pameran lukisan Art for Peace and a Better Future: Collaboration persembahan SBY Art Community (SAC) dihelat pada 18-30 Agustus 2026.
Bertempat di Galeri Emiria Soenassa dan Oesman Effendi, Taman Ismail Marzuki Jakarta, serta di ASHTA District 8 SCBD, pameran ini mendapat apresiasi Menteri Ekraf Teuku Riefky Harsya.
Menurutnya gelaran dalam rangka memperingati 81 Tahun Kemerdekaan RI itu telah menjadi ruang refleksi bagi para seniman dalam merespons kenyataan bencana alam belakangan melalui subsektor seni rupa.
“Karya-karya yang ditampilkan, para seniman menyampaikan respons dan refleksi terhadap situasi global yang terjadi saat ini. Gagasan tersebut kemudian dapat dinikmati dan dipahami oleh masyarakat, khususnya publik di Jakarta, melalui bahasa seni,” ucap Teuku Riefky.
SAC yang lahir dari gagasan Presiden RI ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bertujuan memajukan seni rupa Tanah Air sekaligus menjadi katalis kebersamaan dan keadilan global serta bergerak di atas tiga pilar utama, yaitu resolusi konflik dan perdamaian, penegakan kemanusiaan, serta kelestarian lingkungan.
Pameran ini didukung oleh Kementerian Ekraf bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Kornfeld Galerie Berlin, Kementerian Kebudayaan, hingga berbagai mitra seni budaya.
“Kami berharap kolaborasi dalam SBY Art Community dapat terus berkembang dan membuka lebih banyak kesempatan bagi seniman Indonesia untuk berkarya dan berjejaring di tingkat internasional,” tambah Menteri Ekraf.
Pameran yang dikuratori Gie Sanjaya ini menampilkan 150 lukisan terkurasi, terdiri atas 52 karya SBY, 29 karya Christopher Lehmpfuhl, 63 karya seniman SBY Art Community, lima karya seniman cilik, dan satu karya kolaborasi. Seluruh eksibisi tersebut merangkum hasil olah rasa para perupa dari ISI Yogyakarta, ISI Solo, ITB Bandung, IKJ Jakarta, hingga praktisi independen.
Salah satu sorotan utama bertajuk Greener World, No more Choice karya Akbar Linggaprana berukuran 200 x 300 cm memadukan lanskap surrealistis hutan dan samudra sebagai cerminan kegelisahan atas krisis alam.
Visualisasi ikan yang terlempar keluar dari air beserta atmosfer kontras dan pohon gersang menyimbolkan keterancaman ekosistem akibat penebangan liar, pemanasan global, hingga pencemaran industri.
“Apa yang kita hadapi seperti kebakaran hutan, banjir bahkan runtuhnya gletser atau bongkahan es di wilayah pegunungan Himalaya dekat perbatasan Nepal-Tibet adalah peringatan nyata untuk kita memperbaiki alam dan lingkungan kita,” jelas Akbar Linggaprana.




















