EVENTGUIDE.ID – Banda Aceh pertama kalinya menjadi tuan rumah International Disaster Resilience Workshop & Conference 2026.
Bertemakan Rethinking Architecture: Disaster Risk Reduction, Resilience & Recovery (DR3) forum ini mengangkat isu strategis, peran desain dalam menghadapi ancaman bencana alam serta proses rekonstruksi pascabencana.
Menteri Ekraf, Teuku Riefky Harsya, menyatakan bahwa kehadiran pemerintah dalam forum ini merupakan bentuk komitmen mendorong inovasi serta karya berkualitas tinggi di bidang arsitektur sebagai bagian dari ekonomi kreatif nasional.
“Kementerian ini dibentuk untuk mengorkestrasi di antara 17 subsektor, salah satunya adalah arsitektur. Sebagai bagian dari ekonomi kreatif, kami meyakini bahwa industri arsitektur akan terus berkembang,” kata Menteri Ekraf.
Pada 2024, subsektor arsitektur menyerap sekitar 61.442 tenaga kerja dengan nilai PDB mencapai lebih dari 2,1 miliar dolar AS serta total investasi sekitar 22 juta dolar AS.
“Hal ini menunjukkan bahwa para arsitek di Indonesia memiliki peran penting dalam mendorong perekonomian nasional,” imbuhnya.
Menteri Ekraf menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif, termasuk kerja sama dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI). Menurutnya, peran arsitektur dari estetika bertransformasi menjadi bagian penting dalam mitigasi bencana dan ketahanan nasional.
“Arsitektur kini bertransformasi dari seni merancang menjadi ilmu tentang keberlangsungan hidup. Melalui inovasi desain, arsitek dapat mengubah bahaya menjadi risiko yang terkelola,” ujarnya.
Gelaran yang bertempat di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh tersebut menjadi forum global untuk membahas pengurangan risiko, penguatan ketangguhan, serta pemulihan berbasis pendekatan arsitektural.
Banda Aceh ditunjuk sebagai tuan rumah tanpa proses bidding. Keputusan ini mempertimbangkan posisi Aceh sebagai contoh nyata praktik ketangguhan dan pembangunan kembali pascabencana yang diakui secara internasional.
Executive Chair & Convenor of the UIA Natural and Human Disasters Work Programme Region IV, Aimee Roslan, memperkenalkan bahwa International Union of Architects (UIA) atau Persatuan Arsitek Internasional merupakan organisasi badan dunia bagi para arsitek. Saat ini, UIA memiliki 117 seksi anggota yang tersebar di 125 negara, dengan sekitar 700.000 arsitek yang terdaftar di seluruh dunia.
“Ini UIA pertama yang diselenggarakan di Republik Indonesia, tepatnya di Banda Aceh, kota dengan yang dikenal dengan ketangguhannya. Menjadi tanggung jawab yang bermakna untuk menjadi tuan rumah konferensi ini di Banda Aceh, Indonesia,” ujarnya
Kota ini merupakan bukti nyata ketangguhan sekaligus laboratorium hidup dalam menghadapi dan beradaptasi terhadap bencana alam maupun kemanusiaan.
“Dalam konteks inilah kita berkumpul. Banda Aceh adalah kandidat yang tepat untuk menjadi tuan rumah DR3 Aceh 2026, karena menunjukkan bagaimana membangun kembali dengan lebih baik, 21 tahun setelah dilanda salah satu bencana alam terbesar di abad ke-21, serta kemampuannya dalam beradaptasi terhadap bencana,” lanjutnya.
Konferensi ini juga menandai penyelenggaraan perdana agenda Union Internationale des Architectes (UIA) di Indonesia sejak organisasi tersebut berdiri pada 1948.




















