EVENTGUIDE.ID- Wakil Menteri Pariwisata (Wamenpar) Ni Luh Puspa menegaskan perempuan merupakan penggerak utama ekosistem pariwisata Indonesia.
Tidak hanya mendominasi tenaga kerja di sektor ini, perempuan juga menjadi penggerak UMKM, penjaga budaya, hingga pemimpin komunitas yang memperkuat daya saing destinasi wisata.
Hal tersebut disampaikan Wamenpar saat membuka Women’s Leadership Forum 2026 bertema “Women Leading Tourism: Membangun Destinasi yang Berkelas Dunia melalui Kepemimpinan, Inovasi, dan Kolaborasi” di Kantor Lembaga Administrasi Negara Jakarta.
“Data UN Tourism juga menunjukkan bahwa 54 persen pekerja di sektor pariwisata adalah perempuan,” kata Wamenpar Ni Luh Puspa.
Di sektor pariwisata, perempuan hadir hampir di seluruh rantai nilai industri. Mulai dari pengelola desa wisata, pemilik homestay, pelaku UMKM kuliner dan kriya, penenun, perajin, pemandu wisata, hingga pelestari seni dan tradisi yang menjadi identitas destinasi Indonesia.
.”Perempuan di sektor pariwisata memiliki peran yang sangat besar dalam memperkuat daya saing pariwisata Indonesia di tingkat internasional,” katanya.
Di banyak desa wisata, perempuan menjadi motor penggerak. Mereka mengelola homestay, mengembangkan kuliner lokal, membuat kerajinan, menenun kain tradisional, menjadi pemandu wisata, hingga menjaga berbagai tradisi budaya yang menjadi daya tarik wisata Indonesia.
Wamenpar menambahkan, sektor pariwisata merupakan salah satu sektor ekonomi yang paling inklusif karena lebih dari separuh tenaga kerjanya merupakan perempuan. Namun, besarnya kontribusi tersebut masih dihadapkan pada sejumlah tantangan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Salah satu tantangan tersebut adalah meski jumlah perempuan sangat besar, kesempatan mereka untuk menduduki posisi pimpinan dan memperoleh penghasilan yang setara masih menjadi tantangan di berbagai sektor pariwisata.
Ia mencontohkan pada industri perhotelan perempuan masih lebih banyak menempati posisi tertentu, seperti pemasaran, sementara kesempatan untuk menduduki posisi pimpinan utama masih belum merata.
“Masih ada anggapan perempuan hanya menjadi pelengkap. Padahal tanpa perempuan, ekosistem pariwisata tidak akan bergerak,” kata Ni Luh.
Wamenpar menilai diperlukan langkah-langkah afirmatif yang mampu membuka akses lebih luas bagi perempuan untuk menduduki posisi strategis di sektor pariwisata.
Dukungan terhadap perempuan harus diwujudkan melalui kebijakan dan aksi nyata yang memberikan kesempatan yang setara dalam kepemimpinan.
“Menterinya perempuan dan wakil menterinya juga perempuan. Jadi, kami di sana sangat menjunjung tinggi kolaborasi. Pemimpin pariwisata adalah pemimpin yang menjadi kolaborator, orkestrator, dan juga katalisator,” ujarnya.
Menutup pemaparannya, Wamenpar mengajak seluruh perempuan yang hadir dalam forum untuk terus saling mendukung, memperkuat jejaring kepemimpinan, serta membuka lebih banyak ruang bagi perempuan untuk berkontribusi dalam pembangunan pariwisata nasional.
“Kita sedang menciptakan masa depan, membuka peluang, dan melahirkan generasi-generasi yang lebih baik,” tutupnya.



















